Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Provinsi Jawa Tengah ke- 31 akan diselenggarakan di Kabupaten Tegal pada tanggal 10-14 November 2025. Kegiatan ini mengusung tema ‘Mengawal Peradaban Al-Qur'an di Era Digital’. Bagaimana menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai panduan moral di tengah tantangan modernisasi dan banjir informasi menajdi fokusnya.
Dalam al Quran surah al Hijr ayat 9, Allah secara tegas telah menjamin otentitas al Quran karena Dia yang menurunkan dan berjanji menjaganya. Dengan jaminan itu, banyak manusia kemudian berusaha menjadi bagian dari para penjaga al Quran dengan menghafal, membaca, mempelajari, dan menggali isinya. Tujuan dari aktifitas itu tidak lain agar mereka mendapatkan petunjuk dan hikmah, tuntunan akhlak dan budi pekerti yang baik, ilmu pengetahuan dan pedoman berfikir bagi cerdik pandai, serta petunjuk jalan hidup dunia dan akhirat nanti.
Di tafsir tahlili aplikasi Quran Kemenag disebutkan bahwa pada periode nabi, ada tiga faktor yang berpengaruh membantu menjaga kelestarian bacaan dan tulisan al Quran. Pertama adalah tulisan atau naskah yang ditulis para penulis wahyu. Kedua, hafalan para sahabat yang sangat antusias menghafalnya. Ketiga, tulisan pribadi sahabat yang audah ahli baca tulis seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas'ud, Ali bin Abi Thalib, dan lainnya.
Selain itu pengecekan Malaikat Jibril kepada bacaan Nabi, serta pengecekan nabi kepada bacaan para sahabat juga berperan penting. Paska nabi wafat, di masa sahabat al Quran mulai diulis secara resmi. Di periode seterusnya proses penjagaan kemurnian itu terus berlangsung dengan berbagai metode.
Di Indonesia, MTQ yang diselenggarakan oleh negara merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian al Quran itu. Hal ini disebabkan melalui MTQ. pemerintah menetapkan standar sekaligus memmberi wadah ekspresi kealquranan. Melalui penyelenggaraan MTQ, banyak proses pengajaran (ta’lim) dan pendidikan tarbiyah beberapa ilmu (ulumul) Qur’an baik yang dikelola pemerintah maupun masyarakat termotivasi untuk terus berlangsung.
Upaya lain negara dalam menjadi penjaga kemurnian al Quran adalah dengan membentuk Lajnah Pentashihan Mushaf al Quran yang memiliki tugas meneliti semua naskah al Quran yang akan dicetak sebelum diedarkan ke masyarakat. Pemerintah juga memiliki naskah al Quran yang menjadi standar dalam penerbitan di Indonesia.
Sebagai festival atau lomba, MTQ bertujuan untuk mengagungkan Al-Qur'an dengan melombakan seni membaca Al-Qur'an (tilawah) berdasarkan ilmu tajwid, lagu/suara, dan fashahah/ adab. Di ajang itu juga dilombakan cabang lainnya seperti hafalan (hizh), pemahaman (fahm), penjelasan (syarh), tafsir, kaligrafi, hingga karya tulis kandungan al Quran. Selain ajang lomba, ia menjadi sarana dakwah dan syiar Islam, mendorong pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur'an, serta menjadi ajang mencari bibit-bibit unggul di bidang seni dan ilmu Al-Qur'an.
MTQ Nasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 1968 di Makassar, Sulawesi Selatan. Secara berjenjang, pembinaan al Quran melalui MTQ dilaksanakan mulai tingkat kecamatan hingga nasional. Bahkan, beberapa negara berpenduduk mayoritas muslim termasuk Indonesia menyelenggarakan juga MTQ internasional.
Menyentuh Hati
Melalui MTQ, beberapa indera yang disebut al Quran disentuh dan diasah. Indera itu yang disebut al Quran bisa dipakai untuk menemukan kebenaran. Mereka adalah lisan untuk berucap, mata untuk melihat, terlinga untuk mendengar, dan hati untuk memahami.
Berbagai indera yang tersentuh keindahan al Quran tersebut pada akhirnya bermuara di hati. Hati yang tersentuh akhirnya tunduk dalam keimanan. Sama seperti sejarah rontoknya kekafiran dan kekerashatian Umar bin Khatab di masa jahiliyahnya ketika mendengar lantunan al Quran dari adik dan iparnya.
Sentuhan al Quran melalui MTQ ini dengan demikian mengingatkan kita bahwa dakwah adalah proses mengajak kepada berbagai hati manusia dengan kecenderungan dan naluri ketertarikan yang beragam. Ada yang tertarik melalui indera telinga, mata, hingga pikiran dan hatinya. Ia juga mengingatkan kita bahwa dakwah juga bisa jadi merupakan proses panjang yang tidak selalu serta merta terlihat hasilnya.
Ada sebagian orang yang mudah tersentuh keimanannya dengan mendengar nada dan irama bacaan Quran yang merdu. Ada yang dengan melihat tulisan kaligrafi yang indah. Ada sebagian lain yang tersentuh setelah lama merenungi pesan ajaran al Quran.
Dari hal ini kita diajak agar bisa bersikap arif dengan merangkul semua kalangan untuk mendekat dan bersentuhan dengan al Quran. Semuanya adalah langkah kebaikan sebagaimana digambarkan Sang Nabi bahwa tiap satu huruf al Quran penuh ganjaran kebaikan. Muara dari persentuhan dengan kalam Tuhan ini tentu agar pemahaman dan pengamalannya meningkat.
Oleh karena itu, sebagai media dakwah, MTQ memiliki banyak fungsi seperti wadah ekspresi keindahan dan kemukjizatan al Quran di beberapa aspeknya, sarana memperdalam pemahaman Al-Qur'an, upaya membumikan Al-Qur'an dengan menjadikannya sebagai pedoman hidup di tengah masyarakat termasuk dalam menghadapi tantangan kontemporer. Di bidang sosial dan ekonomi, MTQ meningkatkan silaturahmi dan membuka peluang ekonomi masyarakat. MTQ juga menjadi sarana pembinaan untuk membentuk generasi yang memiliki moralitas dan kualitas diri yang baik.
Pembinaan itu tidak hanya dalam mental keagamaan, namun juga dalam hal mental kebangsaan. MTQ dengan demikian bisa disebut sebagai salah satu media sekaligus bukti upaya menebarkan ajaran islam wasathiyah di Indonesia. Melalui MTQ, sikap moderasi beragama yang bercirikan sinergi keagamaan dan semangat kebangsaan terus ditenun selama berpuluh tahun.
Melalui MTQ kita berharap pancaran ilahi terus menyinari provinsi Jateng ini. Ia menjadi pedoman mengarungi kehidupan dan menjawab tantangan zaman dengan pasti.
-Dr. Andi Purwono Amir
Komisi Litbang MUI Jateng, Sekum JQH NU Jateng, dan Staf Ahli Rektor Unwahas